Warung Pak Min

Tehnya bikin Ketagihan

M : “Mas, pripun kabare?”

I : “Apik-apik wae pak, lha kowe kok ra tau ketok. Ndelik neng endi?”

N : “Loro meneh dab. Cikungunya jarene. Ha2 (sambil mengisap jarumnya)”

Kalimat diatas bukan cerita bersambung, tapi sekelumit percakapan yang sering terdengar di warung ini. Sebagian besar anggota komunitas 55 banyak yang ke sini lho. Sayur tahu, terong, tempe goreng, tahu bacem, mendoan, bakwan, tahu isi, indosiar, krupuk, sate usus, sate ayam, sate kerang, roti kukus, lele goreng, nila goreng, rempelo ati, telor asin, telor dadar, bothok, serta suasana ngumpul-ngumpul, tanya kabar, cari kabar, baca koran, nongkrong saja, kelaparan, bahkan yang nyari jajanan buat anaknya sekolah semua ada disini. Pokoknya lengkap deh.

Yah, warung Pak Min ini emang sudah terkenal sejak dahulu kala. Sebelum aku menetap di oemah ini warung ini berdiri di sebelah kiri jalan arah dari geronimo ke mandala, tapi karena ada something trouble kemudian sekarang pindah di kanan jalan deket kali.

Entah apa yang bikin balik lagi ke warung ini? Padahal tiap hari pake sayur tahu dan tempe terus. Tapi anehnya aku udah hampir 5 tahun makan di situ dengan sayur tahu juga nggak bosen-bosen, sepertinya tiap hari tu rasanya berbeda-beda dan bikin ketagihan terus. Apalagi dengan teh tubruknya yang waahhh, enak buanget. cobain deh, pasti ketagihan.

Perangkat pembuat teh tubruk
Sayur pavorit – tahu, lele juga ada
Tempetnya enak, bersih, dan nyaman
Advertisements

About this entry