Kirab Budaya Pakualaman

Sebuah kelestarian budaya

Tadi sore sekitar pukul 15.00, aku menyempatkan diri untuk melihat kirab budaya dalam rangka Tinggalan dalem tumbuk kaping 9 Puro Paku Alam IX (ulang tahun ke-72). Seluruh masyarakat sekitaran pakualaman berduyun-duyun keluar semua. Mulai dari anak-anak sampai orang tua penasaran ingin menyaksikan koleksi kereta pusaka milik kraton Yogyakarta dan Pakualaman.

Rute kirab budaya ini start dari puro pakualaman dan dilanjutkan ke jalan Kusumanegara, jalan Gajah mada, jalan Bausasran, jalan Gayam, jalan Kenari, jalan Cendana, jalan Kusumanegara dan kembali ke Puro Pakualaman lagi.

Pada barisan pertama atau pembuka jalan kirab dipimpin Pasukan Gajah dengan jumlah empat ekor gajah. Kemudian diikuti Manggala Yudha yang dipercayakan kepada kerabat Puro Pakualaman BRMH Hario Danardono. Kemudian disusul dengan pasukan-pasukan yang lain yang mengawal kereta-kereta pusaka antara lain : Kereta Kyai Manik Brojo, Kereta Kyai Rejo Pawoko, Kereta Nyai Roro Kumenyar, Kereta Kyai Puspoko Manik, Kereta Kyai Kus Gading, Kereta Kyai Kuthoko Harjo, Kereta Kyai Kus No.10, Kereta Kyai Rejo Pawoko, dll.

Pada barisan berikutnya diikuti kesenian Liong Samsi, Ho Hap Hwe, Paguyuban Ontel Pojok Yogyakarta (klub pecinta sepeda tua), Bergodo Prajurit Tambak Yudho dari Depok Kabupaten Sleman, Komunitas Gayam 16 Yogyakarta, dll.

Pokoknya rame banget deh. Jadi seneng ngeliatnya. Ini termasuk melestarikan kebudayaan daerah lho.

Mahasiwa – mahasiwi dari UNY
Para Manggala Yudha
Advertisements

About this entry