Ngabuburit di Kauman Jogja

Nikmatnya ngabuburit di Jogjakarta

Waktu berbuka puasa merupakan waktu yang paling ditunggu oleh orang yang sedang menjalankan puasa di bulan ramadhan ini. Berbagai macam menu makanan yang tidak ada di hari biasa, biasanya ada pada waktu buka puasa di bulan puasa ini. Bermacam cara pula untuk menunggu waktu berbuka puasa, antara lain misalnya dengan mengikuti pengajian di masjid yang dilanjutkan ta’jilan (buka bersama), atau sekedar jalan-jalan sembari menunggu waktu berbuka yang sering dinamakan ngabuburit.

Setelah melewati beberapa hari pada puasa kali ini, sudah banyak tempat pula yang saya singgahi untuk ngabuburit, sekedar melihat-lihat ataupun untuk membeli makanan dan minuman untuk membatalkan puasa. Di kota Jogja menurut sepengetahuan saya banyak banget tempat yang cucok untuk ngabuburit. Diantaranya misalnya : pasar sore ramadahan di Kauman, Kampung ramadhan di Jogokaryan Krapyak, Area bunderan UGM dan seputaran kampus UGM, seputaran kampus UNY, sepanjang jalan kaliurang, dll.

Kali ini perjalanan saya terhenti di pasar sore Ramadhan di kauman, jogjakarta. Tepatnya di sebuah jalan setapak, yakni suatu jalan sempit yang hanya bisa dilewati kendaraan bermotor saja. Sejenak setelah melewati lampu lalu lintas depan PKU Jogjakarta, lalu lintas jalan sudah semrawut dan macet. Apalagi kalau anda lewat sekitar jam 16.30 an. Kendaraan parkir berjajar rapi di tepi jalan dan banyak pula pejalan kaki yang lalu lalang seakan ingin menyerbu tempat itu. Setelah memarkir kendaraan di pinggir jalan itu, kemudian berjalan mendekati pintu gerbang yang bertuliskan “Pasar sore Ramadhan Kauman”.

Sebelum menginjakkan kaki masuk ke sebuah jalan setapak yang ramai itu, pandanganku tertegun kerana melihat banyak tangan menengadah, ada yang membawa kotak dari karton, kantong lusuh, kaleng bekas, botol bekas minuman, atau kedua tangan kosong mereka yang menyatu mengarap sedekah dari para pembeli. Sungguh sebuah ironi dimana banyak orang yang menghambur-hamburkan hartanya, sedangkan di sini meraka yang jumlahnya puluhan itu menangis mengaduh meminta sekeping logam untuk membeli seplastik kolak buat membatalkan puasa mereka yang tak hanya sebulan itu. Kok malah bahas ini sih. Banyak pula yang iba dan menjatuhkan recehnya ke pangkuan mereka para ibu-ibu yang usianya sudah teramat sepuh untuk melakukan semua ini.

Setelah masuk ke dalam ternyata sudah berjajar stan yang menjajakan aneka makanan dan minuman bahkan pula dijual lauk-pauk untuk puasa anda. Minumannya mulai dari yang sering kita jumpai yakni coctail, kolak, es doger, dawet cendol, dan dengan makanan kecil seperti aneka gorengan, kue pukis, kue terang bulan, dan kue-kue yang lainnya. Kemudian saya menemukan satu makanan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Makanan itu bernama kicak, yakni makanan bulat tak beraturan sebesar kepalan bayi yang terbuat dari ketan yang dikukus dengan isi potongan nangka dan ditaburi dengan sedikit parutan kelapa. Ternyata makanan ini hanya ada pas bulan ramadhan saja, dan saya ternyata menemukannya di sini. Setelah tanya pada pedagangnya ternyata kue ini sudah abis, datangnya kesorean sih. Biasanya jam 16.30-an aja sudah habis. Setelah bertanya pada penjual itu ternyata rasanya kue ini nano-nano antara rasa ketan dan parutan kelapa yang gurih dan rasa nangka yang manis, sehingga menciptakan rasa baru.

Dan berakhir sudah penjelajahan hari itu dengan dikumandangkannya adzan yang bersahut-sahutan dari masjid satu dan masjid yang lain. Bagi anda yang ingin mengisi waktu ngabuburit dengan membeli aneka makanan dan minuman dengan suasana yang berbeda, saya sarankan anda datang ke kampung ramadhan Kauman Jogjakarta yang sudah buka kurang lebih jam 14:00 siang hari.

Seperti kata Mas Zamroni si ratu jengjeng setahun yang lalu :

“Bila anda resah dengan penjual makanan yang kebanyakan mahasiswi yang cuma nongkrong ngabuburit sambil pura-puara jualan kolak yang penampilannya ndak mau kalah menggoda dengan dagangan yang dijajakannya seperti yang anda temukan di Jalan Kaliurang, percayalah, di sini pandangan anda akan terjaga. Siapa juga yang mau liat ibu-ibu pake kaos kekecilan dan menjajakan makanan dengan nada mendesah semi-semi menggoda kek begitu?”

Advertisements

About this entry