Jogja Java Carnival

Malioboro menjadi lautan manusia

Event jogja java carnival yang sudah dinanti-nanti bagi semua masyarakat sudah berakhir. Acara yang menjadi acara puncak peringatan ulang tahun yang ke 252 kota Jogjakarta tercinta ini mendapat perhatian dan sambutan yang sangat besar dari seluruh rakyat Jogja.

Dengan mengambil lokasi jalan Malioboro sebagai landmark Kota Jogjakarta, pesta akbar karnaval internasional yang menampilkan berbagai bentuk kesenian, baik tradisional maupun kontemporer ini berlangsung. Acara ini dimeriahkan oleh berbagai komunitas budaya di Jogjakarta, serta partisisipasi dari masyarakat sei lainnya. Di tampilkan pula kesenian dari perwakilan negara-negara tetangga seperti malaysia, china, korea selatan, lebanon, jepang, dll.

Acara ini di harapkan dapat menjadi daya tarik wisata, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Aku kemaren datang ke jalan malioboro sekitar jam 19:00 WIB, dan ternyata jalan malioboro sudah tidak kelihatan. Beribu-ribu manusia memenuhi sepanjang jalan, emperan-emperan toko dan trotoar di jalan malioboro ini. Parkiran malioboro yang notabene selalu penuh sesak, sekarang sudah tidak kelihatan lagi, berganti dengan lautan manusia yang membludak. Entah mereka dari mana datangnya, sepertinya dari seluruh penjuru Jogja tumplek di satu jalan ini.

Acara yang dijadwalkan mulai pukul 19:00 WIB berlangsung dengan hikmat, diawali dengan pembukaan, sambutan-sambutan dan diakhiri dengan do’a. Ternyata baru sekitar jam 20:00 lebih karnaval ini berjalan. Berjubel manusia yang memadati jalan, berdiri di pot bunga, di kursi taman, bangku taman, pagar-pagar pembatas, bahkan ada yang rela naik ke atas pohon segala.

Karnaval dimulai dengan  patung kuda terbang yang menarik keretanya, yang dikendarai wayang orang berkostum Rama-Lesmana serta Hanoman dan rombongan kera dari kiskenda. Kemudian dilanjutkan dengan kesenian lain yakni gamelan gaul dari komunitas gayam 16, kesenian angguk dari kulon progo, replika tugu jogja dengan sponsor esia serta bintang iklannya ringgo agus rahman, hanbook pakaian tradisional korea selatan, serta kesenian-kesenian lain dan diakhiri dengan jathilan.

Mungkin banyak yang kecewa dengan karnaval ini, dikarenakan banyaknya penonton sehingga tidak semua bisa melihat aksi para seniman. Performance juga hanya dilakukan di depan tribun kehormatan, sehinggabagi yang menonton tidak di sekitar pangung kehormatan tidak bisa menikamati. Berlegalah yang di rumah, karena bisa menyaksikan siarang langsung di TVRI tanpa harus berdesakan. Namun, apakah ada kenikmatan selagi berdesakan itu.

in action : SPG esia, Ringgo bintang iklan esia, kesenian kuda lumping, kesenian angguk, hanbook, tari balet, pesta kembang api

Postingan sejenis oleh : antobilang, thomas arie s, ardifa

Advertisements

About this entry