Antara facebook dan pertemanan

Menguak fenomena facebook di sekitar kita

Malam telah larut seseorang masih menggerak-gerakkan tangannya mengikuti tarian sebuah mouse. Bangun tidur, mata masih belum terbuka lebar, masih tampak butiran kapas menempel di muka, pegang mouse lagi, menggerakkan sedikit, update status. Mungkin itu sepotong cerita pendek tentang seseorang yang telah kecanduan sebuah situs jejaring sosial yang bernama fesbuk.

Bagi orang yang belum mengenal satu kata itu, mereka kira aneh, namun memang itu kenyataanya. Fesbuk yang sekarang katanya telah menjadi tren di anak muda, eksekutif muda, pebisnis, para pelaku politik, dan masih banyak lagi sudah “membutakan mereka penggunanya. Bagi para fesbuker sejati katanya itu sudah biasa dan wajar. Kalau tak apdet status, dan komentar status temannya mungkin mereka anggap nggak eksis lah, gak apdetlah. Mungkin kali ya …

Banyak juga cerita kehidupan disekitar kita yang kita tidak tahu, dan kita tahu itu lewat facebuk teman kita. Namun ada pula cerita yang seharusnya tidak kita tahu, dan kita tahu itu lewat fesbuk. Mungkin kita telah kehilangan teman kita, dalam artian tak pernah berjumpa, misalnya teman smp, sd, sma, kuliah atau yang lainnya, dan kita menemukan mereka di fesbuk, bersilaturahmi, bercanda, bersendagurau lagi. Tak ingin kalah dengan blog, banyak pula yang bertemu di fesbuk, kenalan, kemudian pacaran, bahkan ada yang sampai menikah gegara fesbuk. Namun adapula yang sudah berhasil membina hubungan baik, namun berpisah gara-gara fesbuk. Iseng-isengan di fesbuk, marahan di fesbuk, bahkan ada yang sampai yang bunuh diri gegara fesbuk (dari berbagai sumber).

Itulah serba-serbi fesbuk yang diambil di kanan-kiri.

Namun jangan terlalu lengkap memasang profil diri dan foto di facebook Jangan terlalu gampang berteman di Facebook! Waduh, seruan tersebut tentunya tidak terlalu populer, atau cenderung diabaikan, bagi para Facebooker sejati. Ya memang, karena dengan bergesernya konsep dan ide sebuah pertemanan, maka tak apalah pada kenyataannya kita hanya punya segelintir teman di dunia nyata sepanjang punya berjibun (ratusan, ribuan) teman di situs jejaring sosial.

Seolah-olah dengan demikian keeksisan Anda adalah seberapa banyak teman yang dimiliki. Padahal dengan semakin banyak teman, yang kadang hanya teman sekedar kenal atau bahkan tak ingat lagi siapa dia atau bertemu dimana, maka semakin rentan terekspos data diri kita ke pihak-pihak di luar kontrol kita. (dari detikInet)

Jadi, tergantung kita saja yang menyikapinya, mau dibawa kemana itu fesbuk. Ingat, pertemanan tak hanya bisa dilakukan melalui fesbuk. Masih banyak jejaring sosial lain (loh, kok …) cara menyambung silaturahmi tanpa melalui fesbuk. Tak ada salahnya juga pake fesbuk, asal seperlunya saja, lha wong saja juga pakek. Haghaghag …

Advertisements

About this entry